Kata Elminar, sekitar pukul 21.00 WIB setelah Gisen meninggal, dia langsung melapor ke Polres Sibolga. Namun dia tidak jadi menindak lanjuti laporannya saat itu, karena dia tidak memiliki uang untuk biaya otopsi.
“Saya langsung laporkan ke polisi malam itu, tapi katanya biaya otopsi kami yang tanggung. Mendengar itu, saya tak lanjutkan laporan karena uang kami tidak ada,” ungkap Elminar.
Gisen kemudian dikebumikan pada Minggu, 23 Juni 2019 di Pemakaman Umum di Desa Sipea-pea, Huta Tonga-tonga, Kecamatan Sorkam Tapteng.
Namun, kata Elminar, hingga kini mereka tidak ada menerima berkas apapun terkait perobatan maupun kematian anaknya itu dari pihak RSU FL Tobing Sibolga.

Peristiwa kematian Gisen Pasaribu, seorang pelajar di SMA Negeri 1 Sorkam Barat itu menjadi viral di media sosial setelah diunggah oleh akun facebook Romi Kebaya Dressmaker.
Ia menerangkan bahwa dua hari setelah Gisen Pasaribu menjalani operasi di RSU Sibolga kondisinya sudah sehat.
“Tapi setelah makan obat dan diberi suntikan ke infus, satu menit kemudian Gisen bilang sama ibunya dia pusing. Gisen selanjutnya kejang-kejang empat kali dan langsung meninggal,” tulis Romi Kebaya Dressmaker.
Terkait hal ini, dia pun memohon perhatian dari Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah.
“Jadi kami mohon untuk pemerintah Tapteng tolong perhatiannya untuk kami masyarakat kecil ini yg jadi korban karna pelayanan pihak Rumah Sakit Umum Ferdinand Lumbantobing Sibolga, dan untuk memproses ini dengan baik,” pintanya.
“Kami keluarga Marbun dan Pasaribu, sangat sedih dengan kejadian ini,” sambungnya.(red)


Tinggalkan Balasan