TAPANULIPOST.com – Perahu kuno yang ditemukan tertimbun di dasar Sungai Silau, Kecamatan Kisaran Timur, Kabupaten Asahan, Sumatera Utara (Sumut), telah menarik perhatian arkeolog dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumut. Setelah melakukan penelitian, mereka menyimpulkan bahwa temuan perahu kuno tersebut masuk dalam kategori objek diduga cagar budaya (ODCB), berdasarkan bentuk, jenis kayu, serta informasi dari warga di lapangan.

“Kunjungan kami ke lokasi bangkai perahu yang ditemukan masyarakat di Kisaran ini sementara kami simpulkan adalah objek diduga cagar budaya atau ODCB. Salah satu alasannya karena lokasi penemuan bangkai perahu ini merupakan jalur niaga hulu hilir,” kata Lucas Partanda Koestoro, peneliti ahli arkeologi maritim dari Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia kepada wartawan, Kamis (25/5/2023).

Lucas juga menjelaskan bahwa setelah pengamatan timnya terhadap kondisi perahu kuno ini, mereka menyimpulkan bahwa perahu tersebut terbuat dari kayu utuh dan termasuk dalam kategori perahu jekung atau lesung yang biasa digunakan oleh masyarakat Melayu pada zaman dulu.

“Ini perahu dari bentuknya memang dihasilkan oleh masyarakat Melayu pada masanya dengan ukuran panjang 9 meter dan lebar 1,2 meter serta ketinggian dasar sekitar 36 cm. Itu masih dikurangi dengan bagian yang kita tahu sudah hilang jadi ada bagian atasnya satu jengkal,” ujarnya.

Perahu kuno yang masuk dalam kategori ODCB ini diperkirakan berusia di atas 50 tahun dan tidak hanya digunakan oleh masyarakat untuk mencari ikan, tetapi juga untuk aktivitas niaga di sungai pada zamannya.

“Kami katakan ini masuk dalam ODCB karena dipastikan ini usianya sudah lebih dari 50 tahun, tapi sebenarnya untuk pembuktian menjadi cagar budaya masih diperlukan proses yang panjang, banyak kriteria lain yang harus dibuktikan untuk memastikan ini adalah cagar budaya,” kata Lukas.

Terkait dengan tulisan angka 1714 yang terlihat pada perahu kuno tersebut, tim arkeolog tidak dapat memastikan apakah itu sengaja ditulis atau hanya goresan yang samar dan tidak jelas.

“Sepertinya bukan satu tulisan huruf yang dibuat khusus. Mungkin waktu pengerjaannya itu secara tidak sengaja tergores. Karena kalau tulisan huruf itu merujuk pada tahun, sepertinya sangat tidak mungkin ditulis oleh manusia pada masa itu,” terangnya.

Selain melibatkan peneliti ahli arkeologi maritim, tim penelitian juga melibatkan Margareta Setianingsih, seorang ahli epigrafi tulisan kuno dan bidang cagar budaya dari Provinsi Sumut.

Selanjutnya, setelah melakukan penggambaran terhadap perahu kuno tersebut, tim ahli peneliti akan melaporkan hasil observasi kepada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sumut. Mereka berencana untuk menyusun laporan khusus yang mencakup informasi tentang perahu tersebut dan berharap mendapatkan dukungan untuk melakukan penelitian lanjutan, termasuk pengujian carbon dating guna mengetahui usia absolut dari objek tersebut dan tahun pembuatannya.

Sebelumnya, pada tanggal 23 April 2023, seorang warga bernama Nano menemukan perahu kuno tersebut di dasar Sungai Silau di Kabupaten Asahan.

Saat ditemukan, perahu tersebut berada dalam kondisi tenggelam di antara lumpur sungai dengan kedalaman hampir dua meter ketika air sungai sedang surut. (int)

Baca Berita menarik lainnya dari Tapanulipost.com di GOOGLE NEWS