SIBOLGA, TAPANULIPOST.com – Wakil Ketua DPRD Sibolga Jamil Zeb Tumori, SH, MM, memberi dukungan dan apresiasi kepada Danlanal Sibolga Letkol Laut (P) Betrawarman, yang baru-baru ini sedang viral melakukan pembinaan bagi usaha Keramba Jaring Apung (KJA) bagi nelayan di Kota Sibolga.
Hal ini disampaikan Jamil ketika ditemui di ruang kerjanya di Gedung DPRD Kota Sibolga, pada Rabu, 17 Juli 2019.
Jamil berharap Danlanal Sibolga terus mengembangkan pembinaan serupa terhadap nelayan lainnya di Kota Sibolga.
“Saya apresiasi dan dukung Danlanal atas inovasi brilian ini. Soalnya, Kementerian Kelautan dan Perikanan hingga hari ini tidak beri solusi atas penerbitan Permen KP 02 Tahun 2015, sehingga tak sedikit kehidupan nelayan di Sibolga, yang merasakan dampak atas terbitnya peraturan tersebut.
Saya bangga Danlanal Sibolga hadir memberi solusi dan saya berharap terus bertambah nelayan yang dibina untuk itu,” ungkap Jamil yang juga Ketua DPD Partai Golkar Kota Sibolga.
Selain itu, Jamil juga mendukung penuh Danlanal untuk membasmi kapal bom ikan yang masih beroperasi di wilayah kerja Lanal Sibolga.
“Pada Kamis kemarin, saat menghadiri dialog perikanan di RRI Sibolga bersama Ketua KNTM Sibolga Immad Lubis. Saya mendapatkan informasi dari Ketua KNTM, bahwa penangkapan ikan dengan menggunakan bahan peledak masih terjadi di wilayah kerja Lanal Sibolga.
Saya dukung juga Danlanal untuk basmi ini hingga ke akar-akarnya. Tak usah ragu dan khawatir atas siapapun dibelakang kapal bom ikan, saya ikut bersama Danlanal untuk basmi ini hingga ke akarnya,” tegas Jamil.
Ketika diminta tanggapan mengenai jenis pukat trawl, Jamil menanggapi kalau untuk kapal alat tangkap lain seperti Pukat Trawl, secara pribadi dia masih bisa memakluminya.
“Tentu dengan jumlah terbatas dan Pengusahanya orang Sibolga, tapi selama tidak beroperasi di zona nelayan tradisional. Dikarenakan solusi dari Bu Susi untuk Sibolga juga belum ada. Bantuan perikanan pun hanya janji-janji manis dan masih sulitnya dalam pengurusan izin kapal, baik izin 5 GT keatas dr Propinsi dan Izin kapal 30 GT dr Pusat,” sebut Jamil kecewa.
Khusus kapal pukat udang dan pukat ular tidak ada kata kompromi buat mereka. Satu kata, Danlanal harus sikat dan tenggelamkan kapal-kapal itu, karena sering beroperasi di zona nelayan tradisionil. Kuncinya jangan beroperasi di zona nelayan tradisional,” terang Jamil.
“Kita di Sibolga ini kuncinya bagaimana seluruh lapisan nelayan dapat hidup sejahtera. Muncul pertanyaan bagaimana caranya? Menurut saya caranya, bagaimana strategi semua nelayan dapat menikmati hasil laut untuk kehidupannya, itu saja. Bagaimana kekayaan laut kita yang ada, berkelanjutan dan mensejahterakan kita, bukan jadi sumber keributan (masalah) bagi kita. Pukat Trawl selama tidak beroperasi di zona nelayan tradisional, saya yakin tidak ada persoalan di Sibolga.
Pengusaha Kapal Trawl punya kewajiban bantu nelayan tradisional untuk buat rangsang ikan dan sejenisnya. Sehingga semua nelayan di Sibolga hidup rukun dan damai, semua hasil tangkapan ikan bagus, tentu semua nelayan sejahtera. Saya tegaskan lagi dengan jumlah armada terbatas dan tidak beroperasi di zona nelayan tradisionil.
Tapi kalau kapal bom ikan, itu tidak ada dispensasi, harus disikat abis. Karena jangankan untuk kita, untuk anak cucu kita pun bakal tak tersisa lagi kekayaan laut kita, jika bom ikan ini terus beroperasi”, tutup Jamil.


Tinggalkan Balasan