Operasi katarak gratis merupakan program tahunan yang dilakukan sejak 2011. Bekerja sama dengan lembaga kemanusiaan A New Vision dan Kodam I Bukit Barisan, program ini telah memberikan manfaat langsung kepada total 6.289 orang dan manfaat tidak langsung kepada lebih dari 25.000 orang.

Operasi katarak gratis yang digelar Tambang Emas Martabe menggunakan metode cepat, aman yang ditemukan dr. Sanduk Ruit dari Tilganga Institute of Ophthalmology di Nepal.

Metodenya adalah membuat sayatan kecil dan mengganti lensa mata dengan lensa intraokuler buatan. Selain memiliki tingkat keberhasilan 100 persen, metode ini hanya membutuhkan waktu operasi sekitar 10 menit per mata.

Dirancang sebagai program tanggung jawab sosial yang holistik, Tambang Emas Martabe tidak hanya memperhatikan para penerima manfaat, tapi juga transfer ilmu dan pengetahuan kepada dokter-dokter lokal.

Advertisements

[irp posts=”3689″ name=”LPPLH Tapsel Ajak Generasi Muda Mencintai Lingkungan Hidup”]

Sejak 2011 pula, empat orang dokter spesialis mata di Sumatra Utara difasilitasi oleh Tambang Emas Martabe untuk belajar di Tilganga Institute of Ophthalmology di Nepal, dibawah supervisi langsung dari dr. Sanduk Ruit.

Diharapkan para dokter ahli ini dapat menyumbangkan keahliannya kepada masyarakat kurang mampu.

Program STBM telah diperkenalkan oleh Tambang Emas Martabe bekerjasama dengan Dinas Kesehatan Tapsel sejak 2015. Salah satu pilar utama STBM adalah Stop Buang Air Besar Sembarangan (BABS) atau Open Defecation Free (ODF).

Hingga akhir 2016, belum ada satu desa pun yang ODF. Namun, usaha gencar Tambang Emas Martabe berbuah sukses pada 2017, dengan dua desa yakni Batuhula dan Telo berhasil mendeklarasikan status ODF.

[irp posts=”3674″ name=”Chandra Saragih Disenggol Mobil Sepulang dari Tambang Mas”]

Pada tahun ini, ditargetkan 10 desa lainnya di Batangtoru mencapai status yang sama. Tambang Emas Martabe terus memfasilitasi pertemuan rutin pihak-pihak terkait untuk memantau dan mengevaluasi target tersebut.

Program pemberdayaan kelompok tani penangkar padi merupakan solusi bagi pertanian padi konvensional di Batangtoru yang memiliki keterbatasan terhadap benih unggul bersertifikat.

Program ini menjadi pionir kelompok tani yang mampu menghasilkan benih unggul bersertifikat di Batangtoru. Hingga akhir 2017, program ini telah memberikan manfaat kepada 70 orang petani, dengan luas areal tanah, 15 hektare.

Adapun varietas benih yang dihasilkan yakni Taoti Label Putih, dan Situbagendit Label Ungu. Sebelumnya, ada pula Inpari 9 Label Ungu. Seluruhnya menggunakan metode tanam SRI. Jumlah produksi benih mulai 2016 hingga akhir 2017 mencapai lebih dari 60.000 kg.