TAPTENG, TAPANULIPOST.com – Para petani di Kabupaten Tapanuli Tengah enggan menjual gabah hasil panen mereka ke Badan Urusan Logistik Bulog (Bulog) Sibolga. Hal itu dikarenakan harga beli Bulog lebih rendah dibanding harga gabah yang dibeli agen yang datang langsung ke petani.
Hal itu terungkap saat Tim Serap Gabah Petani (Sergap) Mabes AD menggelar acara tatap muka dengan petani di Tapteng, Kamis, 24 Januari 2019.
Seperti diungkapkan H Timan, (60) selaku Ketua Kelompok Tani Setia Kawan di Kelurahan Huta Balang, Kabupaten Tapanuli Tengah, para petani lebih memilih menjual gabahnya kepada agen karena harga lebih tinggi.
[irp posts=”5437″ name=”Tim Sergap Mabes TNI AD Temui Petani di Tapteng”]
“Karena Bulog hanya sanggup membeli dengan harga Rp3.700/kg. Sedangkan para agen yang turun ke petani sanggup membeli kisaran Rp 4.700-4.800/kg. Sebagai petani sudah barang tentu kami memilih yang harga lebih tinggi, karena biaya operasional juga mahal, belum lagi sewa lahan,” ungkap Timan.
Timan berharap, pemerintah dapat menyesuaikan harga jika ingin menampung gabah petani di Tapteng.
[irp posts=”5431″ name=”Pamit Mancing kepada Istri, Sang Suami Ditemukan Meregang Nyawa”]
“Jika harga Bulog berbanding kisaran Rp300, kami pasti akan menjual ke Bulog. Akan tetapi perbedaan harga antara Bulog dengan agen cukup jauh,” ujarnya.
Sementara itu, Tim Serap Gabah Petani (Sergap) Mabes AD, Kolonel Inf Machfud menjelaskan, bahwa pemerintah memiliki target stok beras Nasional. Untuk mencapai itu diharapkan para petani menjual gabahnya ke Bulog, sehingga stok mencukupi dan tidak tergantung kepada impor beras, apalagi kalau terjadi bencana.
“Target Nasional adalah mengharapkan agar swasembada pangan/stok beras nasional bisa terpenuhi, sehingga kita tidak impor beras lagi dari negara tetangga. Kenapa kita menargetkan ini, karena para petani kita ini sudah dibantu oleh pemerintah mulai dari bibit, pupuk, handtractor, dan kebutuhan lainnya.
Diharapkan dengan adanya perhatian dari pemerintah kepada para petani, petani mau menjual gabahnya kepada Bulog walaupun tautan harganya berbeda,” harap Machfud.


Tinggalkan Balasan