TAPANULIPOST.com – Informasi tentang pemberian bantuan Program Keluarga Harapan (PKH) tidak tepat sasaran menjadi pembahasan hangat di media sosial dan membuat banyak netizen geram.

Postingan tersebut juga melampirkan sebuah foto rumah mewah yang di depannya terparkir sebuah mobil. Rumah tersebut diketahui berlokasi di Kelurahan Pandan, Kecamatan Pandan, Kabupaten Tapanuli Tengah.

Informasi tersebut diunggah oleh akun bernama Feri Daeng Malewa di salah satu grup facebook.

“Maaf kalo salah kamar. Cuma mau berterimakasih kepada Kepling Aek tolang, lurah & camat pandan, juga dinas sosial tapteng yang telah memberikan perhatian & bantuannya kepada orang yang tinggal di rumah ini sehingga bisa berpartisipasi menjadi penerima bantuan keluarga prasejahtera atau yang lebih dikenal PKH. Saya berharap pihak terkait juga bisa memberikan bantuan kepada yang lainnya karena masih banyak keluarga lain yang lebih kaya yang bisa mendapatkan PKH..
Demikianlah, atas perhatiannya terimakasih.
#orangmiskinmampusaja,” tulis akun tersebut.

Advertisements

Program Keluarga Harapan sendiri adalah program bantuan pemerintah dalam bentuk non tunai yang dikhususkan untuk Rumah Tangga Sangat Miskin (RTSM).

Kabar ini telah dikonfirmasi oleh Koordinator Pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) Kabupaten Tapanuli Tengah, Agus Panggabean.

Agus membenarkan bahwa orang yang tinggal di rumah tersebut memang mendapatkan bantuan PKH. Namun, ungkap Agus, warga penerima PKH itu hanya menumpang di rumah orang tuanya.

“Penerima PKH itu menumpang di rumah mertuanya. Suaminya adalah anak pertama dari tujuh bersaudara. Saudara-saudaranya semua tinggal di luar kota. Jadi merekalah yang menjaga ibunya di rumah itu. Sedangkan rumah itu dibangun oleh saudara-saudaranya. Mobil itu juga dibelikan oleh saudara-saudaranya untuk ibu mereka,” ungkap Agus ketika dikonfirmasi Tapanulipost.com, Selasa (28/12/2021).

Menurut Agus, orang yang menerima PKH tersebut adalah benar-benar keluarga tidak mampu.

“Penerima PKH itu adalah ibu rumah tangga, kadang dia bekerja mencuci pakaian orang. Sedangkan suami juga kerja serabutan, kalau gak ada kerjaan dia hanya jual BBM ketengan di depan rumah mereka. Usaha jual BBM tersebut juga dimodali oleh saudaranya,” sebutnya.

“Kalau diusulkan agar dinonaktifkan dari PKH kasihan juga, karena saudara-saudaranya juga tidak selalu memberikan subsidi. Bantuan PKH yang mereka terima cuma Rp. 500 ribu per 3 bulan,” ujar Agus. (red)