Tapanulipost.com, Sibolga – Terkait adanya pernyataan Direktur Perumda Air Minum Tirta Nauli Sibolga, Marojahan Panjaitan, yang menyebut adanya kebocoran anggaran di perusahaan daerah tersebut terhitung dari tahun 2021-2023 sebesar Rp7,8 miliar, Arif Budiman Sihombing, mantan Plt Direktur Perumda Air Minum Tirta Nauli Sibolga, memberikan bantahannya.

Menurut Arif, mustahil terjadi kebocoran anggaran di perusahaan milik Pemko Sibolga tersebut. Selain data keuangan perusahaan yang lengkap dalam Rencana Kerja Anggaran Perusahaan (RKAP), penggunaan uang di perusahaan tersebut juga telah melalui pemeriksaan oleh Inspektorat dan Badan Pemeriksa Keuangan Provinsi (BPKP), yang menghasilkan predikat Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) pada tahun 2022 atas laporan keuangan tahun 2021.

“Darimana datanya mengatakan ada kebocoran. Sedangkan, hasil pemeriksaan keuangan Perumda Air Minum Tirta Nauli Sibolga oleh BPKP baik. Buktinya, kita terima WTP tahun 2022. Bahkan, dari penilaian kinerja berdasarkan Kepmendagri No.47/1999, kita mendapat nilai 67,58 termasuk dalam kategori baik,” kata Arif Budiman kepada wartawan, Selasa (6/8/2024).

Menurut Arif, penggunaan kas besar untuk investasi merupakan rekomendasi dari BPKP Sumut, yang ditampung di RKAP 2022, dan menjadi acuan kerja perusahaan.

Advertisements

“RKAP juga disusun oleh tim dengan melibatkan dewan pengawas, sehingga tudingan kebocoran yang diumbar Marojahan dinilai mengada-ada dan hanya mau cari sensasi,” ujarnya. Baca sambungan halaman selanjutnya…

Kemudian, Arif juga menyampaikan bahwa administrasi keuangan selalu dilaporkan setiap bulannya ke Dewan Pengawas. Selain itu, juga kepada Wali Kota Sibolga sebagai pemilik modal, kepada biro hukum Pemko Sibolga serta Komisi II DPRD Sibolga.

Arif menjelaskan bahwa dana sebesar Rp7,8 miliar yang dikatakan bocor oleh Marojahan, dipakai untuk peningkatan pelayanan dan kinerja perusahaan sesuai perkembangan teknologi.

Sebagai contoh, sejak tahun 2021, sistem absensi pegawai sudah menggunakan sistem pinjer dan selfie wajah, serta komputer kantor telah ditingkatkan menjadi core i7, paling rendah core i3.

Sedangkan sebelum tahun 2021, sistem pembayaran masih manual, tetapi sejak tahun 2021, pembayaran sudah bisa dilakukan secara online melalui Indomaret dan layanan pembayaran online lainnya.

“jadi wajar banyak uang yang tersimpan. Kalau tidak ada pengeluaran, otomatis uang akan terkumpul. Bisa dilihat, apa saja peningkatan pelayanan yang telah dikerjakan dari tahun 2021 hingga 2023. Misalnya, sebelum tahun 2021, waktu pak Ojak menjabat, sistem absensi pegawai masih manual. Di tahun 2021 sampai 2023, absensi telah memakai sistem pinjer dan Selfi wajah. Tapi sekarang, setelah pak Ojak kembali menjabat, absensipun kembali lagi ke manual. Kemudian, komputer kantor sebelum 2021, masih Pentium 4, sekarang sudah core i7, paling rendah core i3, untuk memudahkan pegawai bekerja,” ungkapnya. Baca sambungan halaman selanjutnya…

Arif berharap, Marojahan tidak lagi berlagak seperti orang yang lupa ingatan dan tidak mengerti sistem keuangan perusahaan. Arif juga mengingatkan bahwa di dalam RKAP 2024 tidak ada penambahan pegawai Perumda Air Minum Tirta Nauli Sibolga.

“Saya tidak ingat ada menampung 21 karyawan baru. Dewan pengawas harus benar-benar mengoreksi pengajuan perubahan tersebut. RKAP adalah acuan kerja perusahaan, harus benar-benar berpihak untuk kemajuan perusahaan. Jangan seperti orang yang kehilangan ingatan. Seolah-olah tidak mengerti sistem keuangan di Perumda Air Minum Tirta Nauli Sibolga,” pungkasnya.

Dia juga menegaskan bahwa Perumda Air Minum Tirta Nauli Sibolga bukanlah perbankan yang harus mengumpulkan kas sebesar-besarnya, melainkan lebih kepada menjamin keberlangsungan pelayanan air minum di tengah masyarakat.

“Kalau jaringan yang tidak optimal lagi untuk melayani kebutuhan, itu sudah barang tentu mesti dilakukan peremajaan jaringan. Mindset Marojahan sepertinya mindset perbankan, tidak kepada menciptakan pelayanan yang prima kepada masyarakat. Intinya tudingan kebocoran itu mengada-ada saja, hanya mau cari sensasi,” tandasnya. Baca sambungan halaman selanjutnya…

Sebelumnya, Marojahan Panjaitan dalam pernyataannya yang dimuat di media mengungkapkan bahwa Perumda Tirta Nauli Sibolga mengalami kebocoran hingga Rp7 miliar dan mempertanyakan aliran dana tersebut.

“Saya tak tahu dana itu kemana saja? artinya dana yang saya tinggalkan pada saat itu bisa dilihat sendiri kan, dana itu hampir Rp.10 miliar di kas umum Perumda Tirta Nauli Sibolga,” kata Marojahan kepada wartawan, Senin (5/8/2024).

Marojahan Panjaitan kembali menjadi Direktur utama Perumda Tirta Nauli Sibolga, pada 19 Maret 2024 setelah pada tahun 2021 tidak lagi menjabat Direktur utama Perumda Tirta Nauli Sibolga.

Pada tahun 2021, Marojahan Panjaitan diberhentikan dari jabatannya sebagai Dirut PDAM Tirta Nauli Sibolga, meninggalkan saldo di kas umum Rp 9,8 miliar.

Kepada wartawan, Marojahan Panjaitan mengaku heran, saldo di kas umum mengalami penurunan setiap tahun setelah ia meninggalkan PDAM Tirta Nauli Sibolga, atau tak lagi menjabat sebagai direktur.

Pada 2022, saldo awal kas umum PDAM Tirta Nauli Sibolga Rp 4,6 miliar atau berkurang Rp 5,2 miliar. Kemudian pada 2023, saldo awal kian menyusut menjadi Rp2,5 miliar atau berkurang Rp2,1 miliar.

“Sedikit demi sedikit kita berhasil mengembalikan keuangan Kas Umum Perumda Tirta Nauli Sibolga. Pada 30 Juni 2024 saldo Perumda Tirta Nauli Sibolga mencapai Rp 5.027.200.362, dan ditahun 2024 saldo di Kas Umum BUMD tersebut mengalami kenaikan sebanyak Rp. 2.513.402.393,” paparnya. (red)

Baca Berita menarik lainnya dari Tapanulipost.com di GOOGLE NEWS

Dapatkan berita terkini lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Tapanulipost.com dengan klik tautan ini.