TAPANULIPOST.com – Seniman asal Bali, Nyoman Nuarta merasa sedih dan miris karena salah satu karyanya, Patung ‘Anugrah’ yang berada di Kabupaten Tapanuli Tengah, diterlantarkan bahkan telah dijarah.

Kabar tersebut baru dia ketahui dari seorang temannya yang ada di sana. Kemudian Nyoman Nuarta membuat status di Instagram mengenai karya seninya yang dijarah oknum tak dikenal.

“Baru dapat kabar patung ANUGRAH yg ada di labuhan angin TAPANULI TENGAH, yg belum selesai semua baru kepala dan dada ,MERUPAKAN PATUNG HIBAH DR SAYA, setinggi 20 m dgn lebar bahu 10 m,menurut laporan telah habis dijarah dgn rangka2nya,Menyedihkan,” tulis @nyoman_nuarta.

[irp posts=”5393″ name=”Terjadi di Tapteng, Gara-Gara Baliho Caleg Ditempel di Rumahnya, Ibu Ini Terancam Tidak Dapat Raskin”]

Advertisements

Nyoman Nuarta kembali menambahkan, dahulu banyak bupati sampai DPRD setempat yang meminta dibuatkan patung. Dengan alasan agar wisata di daerah mereka masing-masing dapat berkembang.

Foto : Capture status Instagram @nyoman_nuarta.

“Hehe dr sini kita bisa mengukur sampai dimana lunturnya kebudayaan dan keseriusan memajukan daerah kita, dulu mereka datang berduyun duyun ,bupati, DPRD nya minta tolong dibuatkan patung supaya wisata mereka berkembang.tapi dr mereka ternyata tidak ada yg peduli,” tulisnya lagi.

[irp posts=”5400″ name=”Baliho Akbar Tanjung Dirusak, Golkar Sibolga Lapor ke Bawaslu”]

Nyoman menuturkan awalnya pengerjaan patung Anugrah berbahan tembaga dan kuningan itu dibuat di atas bukit, atas permintaan bupati dan DPRD setempat. Mereka mendatangi Nyoman Nuarta di Bandung dan minta dibuatkan patung.

Pihak Pemda setempat mengatakan tidak memiliki cukup biaya, jadi mereka menyiapkan infrastruktur dan pihak seniman sekaligus mencari dana.

“Rencana 60 meter skala rumah, tapi baru selesai 20 meter bagian kepala dan dada,” lanjutnya lagi.

[irp posts=”5365″ name=”Usulan Pergantian Ketua DPRD Tapteng Belum Jelas, Hanura Surati Gubernur”]

Namun pengerjaan patung itu baru selesai 20 meter, pemerintahan daerah setempat pun berganti. Sejak saat itu, tak ada yang tertarik untuk melanjutkannya.

“Karena nggak ada kepastian, saya hibahkan. Itu (patung) ditaruhlah di atas bukit, yang biasa mengurusi meninggal dunia. Itu patung dicuekin, seharusnya kalau sudah jadi kepala dan dada dibikin apalah,” lanjut pendiri NuArt Sculpture Park tersebut.