Ini Penjelasan Polisi Terkait Kasus Suket Rapid Test Palsu dan Motif Pelaku Oknum ASN

  • Whatsapp
Foto: Kasat Reskrim Polres Tapteng AKP Sisworo saat memperlihatkan surat keterangan hasil rapid test palsu yang disita dari tersangka oknum ASN Tapteng berinisal EWT. (Preddy Situmorang/TAPANULIPOST.com)

TAPTENG, TAPANULIPOST.com – Kapolres Tapanuli Tengah, AKBP Nicolas Dedy melalui Kasat Reskrim AKP Sisworo memberikan penjelasan terkait kasus pemalsuan surat keterangan hasil pemeriksaan rapid test COVID-19, yang dilakukan oleh tersangka oknum ASN Pemkab Tapteng.

Kasat Reskrim AKP Sisworo menyebut, oknum ASN berinisial EWT (49) adalah tersangka utama, dan merupakan otak pelaku pemalsuan surat keterangan (suket) hasil pemeriksaan rapid test COVID-19 tersebut.

Bacaan Lainnya

“Tersangka oknum ASN berinisial EWT sebagai otak pelaku. Dia sendiri yang membuat surat keterangan hasil pemeriksaan rapid test itu, dan memalsukan tanda tangan dokter,” kata AKP Sisworo kepada Tapanulipost.com, Senin 29 Juni 2020 di Mapolres Tapteng.

AKP Sisworo mengungkapkan, berdasarkan pengakuan tersangka, ternyata dirinya sudah membuat seratusan lebar suket rapid test palsu kepada para calon penumpang kapal yang akan menyeberang ke Pulau Nias.

“Motifnya didasari kondisi ekonomi. Tersangka mengaku memiliki banyak hutang,” ungkapnya.

Dijelaskan, niat tersangka untuk membuat suket rapid test palsu bermula ketika ada seorang warga bernama Pius datang ke Klinik Yakin Sehat di Kelurahan Sibuluan, Kecamatan Sarudik, Tapanuli Tengah, pada Senin (22/6), untuk menanyakan apakah klinik tersebut bisa mengeluarkan suket rapid test.

Saat itu, Pius kebetulan bertemu dengan tersangka EWT yang juga bekerja di klinik tersebut. Namun karena klinik tersebut tidak bisa mengeluarkan suket rapid test, sehingga timbul niat pelaku untuk membuat suket palsu, mengingat pelaku bekerja di bagian laboratorium di RSUD Pandan dan juga di lab Klinik Yakin Sehat.

“Atas dasar itulah timbul niat pelaku mengeluarkan suket palsu dengan mencetak kop surat milik RSUD Pandan dan memalsukan tanda tangan dokter RSUD Pandan bagian laboratorium. Pelaku mempunyai contoh blangko surat rapid test dari RSUD Pandan,” terang Kasat.

Ada pun modus kerja dari pelaku terang Kasat, dengan menyuruh seseorang rekannya MAP (30), perawat yang bekerja di Klinik Yakin Sehat untuk mengambil sempel darah calon penumpang kapal di salah satu rumah warga di Sibolga, yang diketahui bernama Pius.

Setelah sempel darah diambil, lalu diserahkan kepada pelaku EWT. Selanjutnya pelaku mengeluarkan suket hasil rapid test lalu diserahkan kepada Pius. Pembayarannya dikoordinir oleh Pius. Calon penumpang kapal membayar suket rapid test itu sebesar Rp 250 ribu.

Lanjut ke halaman berikutnya…

Pos terkait