Miris, Warga Sipakpahi dan Hudopa Nauli Takut Keluar Desa

oleh
Satu unit mobil jenis L-300 terperosok di jembatan Batu Leap, Kecamatan Kolang, Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng). (ist)

TAPTENG, TAPANULIPOST.com – Warga Desa Sipakpahi dan Hudopa Nauli, Kecamatan Kolang, Kabupaten Tapanuli Tengah, mulai kuatir dan takut keluar dari desa mereka.

Pasalnya, jembatan Batu Leap yang merupakan akses penghubung ke desa lain sudah rusak parah. Namun jembatan yang mengangkangi sungai besar di wilayah itu tak kunjung mendapat perbaikan pemerintah daerah setempat.

Jembatan yang memiliki panjang sekitar 50 meter yang berada di wilayah Desa Simarpinggan, Kecamatan Sorkam itu kondisinya sangat memprihatinkan. Papan jembatan banyak yang sudah lepas, sehingga badan jembatan terlihat bolong – bolong dengan lebar bervariasi.

Warga yang melintasi jembatan Batu Leap akan merasakan sensasi cemas dan takut, karena dipicu naiknya adrenalin dan fobia ketinggian. Sebab ketinggian jembatan dari permukaan sungai terbilang cukup tinggi, sekitar 15 sampai 20 meter. Ditambah adanya bebatuan besar dan kecil dibawah sana yang siap menampung jika terperosok dari jembatan yang bolong.

“Kalau mau lewat, tentu kita mengucap dan berdoa dulu jangan sampai celaka,” ucap Hendra Bakti Tanjung, 31, warga dusun Unteholing, desa Sipakpahi, Kecamatan Kolang kepada awak media, Selasa (30/5).

Diakui, warga Desa Sipakpahi dan Hudopa Nauli sudah mengajukan kepada pihak Kecamatan agar jembatan itu diperbaiki. Menurutnya, pihak Kecamatan melalui pihak Kelurahan merespon baik permintaan warga, karena mengingat jembatan tersebut merupakan satu – satunya akses dari dan ke desa Sipakpahi dan Hudopa Nauli.

“Tapi dengan catatan, warga Desa Unteholing dan Hudopa Nauli harus terlibat dalam perbaikannya, termasuk terlibat dalam penyediaan materi dan meterial perbaikan jembatan. Alasannya, karena anggaran perbaikan jembatan Batu Leap tidak ada ditampung pada tahun (2017) ini. Kalau seperti itu, bagus kami yang memperbaikinya, seperti sebelum – sebelumnya,” ujarnya.

Baca juga :  Danrem 023/KS Buka Turnamen Sepak Bola Danrem Cup II

Bagaimana dengan dana desa, sebut Tanjung, hal inilah juga menjadi salah satu keprihatinan masyarakat Desa Unteholing dan Hudopa Nauli, sehingga jembatan tersebut sulit diperbaiki.

Pasalnya, tampuk kepemimpinan Desa Unteholing saat ini sedang stagnan (kosong), ditambah letak jembatan batu leap berada di wilayah Desa Simarpinggan atau bukan berada di wilayah Desa Unteholing dan Hudopa Nauli. Sehingga sulit bagi Desa Unteholing dan Hudopa Nauli untuk mengalokasikan anggaran desa untuk perbaikan jembatan tersebut.

“Dari pihak Desa Simarpinggan, juga serasa tidak mungkin untuk mengalokasikan dana desa mereka ke jembatan tersebut. Karena itu bukan sarana penghubung ke desa mereka,” tukas Hendra.

Hal senada disampaikan warga dusun Unteholing lainnya, Hotman Sianturi (52). Hotman tidak memungkiri jika penduduk Desa Sipakpahi dan Hudopa Nauli saat ini telah dibuat susah oleh jembatan rusak tersebut.

Katanya, warga kedua desa saat ini enggan dan takut untuk keluar masuk desa, kecuali dalam keadaan terpaksa. Soalnya baru – baru ini seorang pengendara bermotor nyaris saja tewas masuk ke dalam sungai saat akan melintas menyeberang badan jembatan.

“Beruntung leher pengendara tersebut tergantung di palang besi jembatan, sehingga dengan refleks pengendera tersebut meraih papan jembatan,” tutur Hotman.

Menurut M. Hutabarat, 50, warga Dusun Londut, Desa Sipakpahi, satu – satunya cara alternatif untuk bisa melewati jembatan adalah dengan cara melintasi palang besi sejajar di tengah badan jembatan. Sebab sisi kiri dan kanan palang besi jembatan bisa dijadikan tumpuan kaki ketika kenderaan (roda dua) melaju tidak stabil. Bahkan bila terjadi hal – hal yang tidak diinginkan, memungkinkan bagi seseorang untuk selamat, tidak masuk terperosok ke dalam sungai.

Baca juga :  Danrem Cup, Laga Halilintar vs PSTT Berdarah-darah

“Disi paling kiri dan kanan jembatan, memang ada juga titi papan, tapi itu sangat tidak memungkinkan atau berbahaya untuk dilalui, karena bila terjadi hal yang tidak diinginkan, kita bisa langsung terperosok ke dalam sungai,” beber Hutabarat.

Hutabarat mengakui, selama ini warga Desa Sipakpahi dan Hudopa Nauli selalu mengambil inisiatif untuk memperbaiki jembatan tersebut. Namun tidak berlangsung lama, badan jembatan yang dipasang dengan papan dari pohon tertentu dan pohon Kelapa sebagai pengganti papan sebelumnya tidak dapat bertahan lama, kembali rusak.

Mereka berharap, Pemkab Tapteng segera memperbaiki jembatan Batu Leap ini sebelum memakan korban. Selain itu, jembatan tersebut sangat dibutuhkan sebagai sarana pendukung perekonomian warga di dua desa.

“Kita kuatir ada korban jiwa nantinya. Kami meminta Pemerintah segeralah memperbaiki jembatan itu,” katanya.

Anggota DPRD Tapteng, Januari Hutagalung, salah satu wakil rakyat asal daerah itu, tidak menampik apa yang dikuatirkan dan ditakutkan warga Desa Sipakpahi dan Hudopa Nauli tersebut.

Dia mengaku, akan memperjuangkan anggaran perbaikan jembatan tersebut di Perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (P-APBD) 2017 ini.

“Kondisi jembatan tersebut kita akui memang sudah tidak representatif lagi dan sangat berbahaya untuk dilalui pengendara. Untuk itu, kita akan dorong pemerintah untuk mengganggarkan biaya perbaikan jembatan tersebut di P-APBD 2017 ini. Mudah – mudahan terealisasi. Karena memang, anggaran untuk itu sama sekali tidak ada ditampung di dalam APBD 2017 tahun ini,” kata Januari menjawab wartawan. (red)